Thursday, December 6, 2012

Beban Pendidikan Agama pada Perguruan Tinggi yang Terlalu Berat

*terpikir setelah mengikuti rapat kurikulum..*
Pendidikan agama di perguruan tinggi selalu diberikan beban untuk membentuk karakter. Sedangkan karakter sendiri adalah parameter yang sulit diukur.

Pada kenyataannya yang terjadi adalah sebagai berikut :
- Pendidikan agama tidak banyak membantu membuat mahasiswa tidak mencontek
- Pendidikan agama tidak banyak membantu membuat mahasiswa tidak membuang sampah sembarangan
- Pendidikan agama tidak banyak membantu membuat mahasiswa menjaga kebersihan toilet

karenanya sudah saatnya paradigma pendidikan agama diubah, dari "membentuk karakter" (target yang cukup berat) menjadi hanya "membuat mahasiswa LEBIH memahami agamanya", sehingga nilai yang tercantum dalam transkrip mahasiswa adalah hanya parameter pemahaman mereka terhadap agamanya. Dengan beban kuliah agama seperti sekarang, nilai agama pada transkrip seolah-olah dikaitkan dengan karakter. Padahal nilai agama tinggi belum tentu mereka lebih soleh atau lebih tertib, tu lebih tidak menyusahkan orang lain dll.

Jadi materi yang saya rasa perlu ditambahkan (selain fiqh praktis shalat, puasa, haji, zakat dll) adalah :
1. Kaidah ushul fiqh dan metode istinbath hukum (agar mahasiswa memahami dari mana datangnya keputusan halal-haram yang difatwakan ulama),

2. Metode autentifikasi hadits (agar mahasiswa memahami metode ilmiah yang mumpuni dibalik status hadits shahih, hasan, dhoif, dll, kaitannya dengan membentuk pola berfikir ilmiah mereka pada jurusan yang mereka tekuni)

3. Aliran-aliran pemikiran Islam (agar mahasiswa dikenalkan dengan aliran pemikiran Islam yang ada, serta mampu melihat semua kebaikan dari kelompok-kelompok aliran pemikiran yang ada. Agar mereka mampu bekerjasama dengan kelompok apapun bahkan dengan umat agama apapun. Bukan untuk menjadikan mahasiswa condong/fanatik pada kelompok tertentu dan mencibir kelompok yang lain)

Materi-materi diatas sangat sesuai dengan kapasitas intelektual mahasiswa. Disamping itu, komponen penilaian yang perlu ditambahkan adalah hafalan quran, misalnya 5 halaman untuk syarat lulus.

Yang menjaga diri kita dari perbuatan dosa hanya dua, yaitu akal (pengetahuan akan hukum2) dan hawa nafsu. Seorang yang tidak tahu hukum sebuah perbuatan dosa akan melakukan perbuatan dosa karena tidak dijaga oleh akalnya. Tetapi seorang yang tahu hukum suatu perbuatan dosa akan tetap melakukan perbuatan dosa karena tarikan hawa nafsunya lebih besar.

Perubahan karakter hanyalah masalah waktu, apabila isi kepala telah penuh dengan pengetahuan dan pemahaman agamanya. Waktu untuk merubah karakter akan tergantung dari masing-masing individu dan jangan menjadi urusan pendidik.

Cuma pendapat saya, silahkan lempar ke tembok kalau tidak sepakat *smile*