Sunday, March 10, 2013
Tangisan Menjelang Fajar
Pagi-pagi buta kulirik kasur, Rayyan tidur dengan gelisah, nafasnya seperti mau menangis. Lalu kudekati, dia menangis tersedu sambil berkata.. "Abi..maafin Rayyan tadi malam..", air matanya meleleh ke atas kasur... Aku kaget.
Tadi malam, ceritanya dia mau nonton Barney di komputer, karena waktunya tidur, dia kubujuk untuk tidur, tapi dia marah dan mencakar tanganku sekuat tenaganya. Walaupun sekuat tenaga, tapi dia hanya anak-anak, sakitnya tak seberapa kurasa. Tapi aku agak over acting, kututup mukaku dengan bantal seolah kesakitan. Cukup lama, hingga terdengar tangisannya. Dengan muka yang masih tertutup bantal, tangannya kupegang lembut, nangisnya malah tambah keras dan tersedu. Aku merasa bersalah membuat karena dia merasa sangat sangat bersalah. Lalu kucoba mencairkan suasana, kuajak cuci kaki, kubilang bahwa aku tidak marah, kubuatkan susu. Dia diam, tapi hingga tidur tampaknya masih dalam perenungan mendalam..
Aku memang orangtua yang masih perlu banyak belajar..mohon bimbinganMu ya Allah..
Thursday, December 6, 2012
Beban Pendidikan Agama pada Perguruan Tinggi yang Terlalu Berat
*terpikir setelah mengikuti rapat kurikulum..*
Pendidikan agama di perguruan tinggi selalu diberikan beban untuk membentuk karakter. Sedangkan karakter sendiri adalah parameter yang sulit diukur.
Pada kenyataannya yang terjadi adalah sebagai berikut :
- Pendidikan agama tidak banyak membantu membuat mahasiswa tidak mencontek
- Pendidikan agama tidak banyak membantu membuat mahasiswa tidak membuang sampah sembarangan
- Pendidikan agama tidak banyak membantu membuat mahasiswa menjaga kebersihan toilet
karenanya sudah saatnya paradigma pendidikan agama diubah, dari "membentuk karakter" (target yang cukup berat) menjadi hanya "membuat mahasiswa LEBIH memahami agamanya", sehingga nilai yang tercantum dalam transkrip mahasiswa adalah hanya parameter pemahaman mereka terhadap agamanya. Dengan beban kuliah agama seperti sekarang, nilai agama pada transkrip seolah-olah dikaitkan dengan karakter. Padahal nilai agama tinggi belum tentu mereka lebih soleh atau lebih tertib, tu lebih tidak menyusahkan orang lain dll.
Jadi materi yang saya rasa perlu ditambahkan (selain fiqh praktis shalat, puasa, haji, zakat dll) adalah :
1. Kaidah ushul fiqh dan metode istinbath hukum (agar mahasiswa memahami dari mana datangnya keputusan halal-haram yang difatwakan ulama),
2. Metode autentifikasi hadits (agar mahasiswa memahami metode ilmiah yang mumpuni dibalik status hadits shahih, hasan, dhoif, dll, kaitannya dengan membentuk pola berfikir ilmiah mereka pada jurusan yang mereka tekuni)
3. Aliran-aliran pemikiran Islam (agar mahasiswa dikenalkan dengan aliran pemikiran Islam yang ada, serta mampu melihat semua kebaikan dari kelompok-kelompok aliran pemikiran yang ada. Agar mereka mampu bekerjasama dengan kelompok apapun bahkan dengan umat agama apapun. Bukan untuk menjadikan mahasiswa condong/fanatik pada kelompok tertentu dan mencibir kelompok yang lain)
Materi-materi diatas sangat sesuai dengan kapasitas intelektual mahasiswa. Disamping itu, komponen penilaian yang perlu ditambahkan adalah hafalan quran, misalnya 5 halaman untuk syarat lulus.
Yang menjaga diri kita dari perbuatan dosa hanya dua, yaitu akal (pengetahuan akan hukum2) dan hawa nafsu. Seorang yang tidak tahu hukum sebuah perbuatan dosa akan melakukan perbuatan dosa karena tidak dijaga oleh akalnya. Tetapi seorang yang tahu hukum suatu perbuatan dosa akan tetap melakukan perbuatan dosa karena tarikan hawa nafsunya lebih besar.
Perubahan karakter hanyalah masalah waktu, apabila isi kepala telah penuh dengan pengetahuan dan pemahaman agamanya. Waktu untuk merubah karakter akan tergantung dari masing-masing individu dan jangan menjadi urusan pendidik.
Cuma pendapat saya, silahkan lempar ke tembok kalau tidak sepakat *smile*
Pendidikan agama di perguruan tinggi selalu diberikan beban untuk membentuk karakter. Sedangkan karakter sendiri adalah parameter yang sulit diukur.
Pada kenyataannya yang terjadi adalah sebagai berikut :
- Pendidikan agama tidak banyak membantu membuat mahasiswa tidak mencontek
- Pendidikan agama tidak banyak membantu membuat mahasiswa tidak membuang sampah sembarangan
- Pendidikan agama tidak banyak membantu membuat mahasiswa menjaga kebersihan toilet
karenanya sudah saatnya paradigma pendidikan agama diubah, dari "membentuk karakter" (target yang cukup berat) menjadi hanya "membuat mahasiswa LEBIH memahami agamanya", sehingga nilai yang tercantum dalam transkrip mahasiswa adalah hanya parameter pemahaman mereka terhadap agamanya. Dengan beban kuliah agama seperti sekarang, nilai agama pada transkrip seolah-olah dikaitkan dengan karakter. Padahal nilai agama tinggi belum tentu mereka lebih soleh atau lebih tertib, tu lebih tidak menyusahkan orang lain dll.
Jadi materi yang saya rasa perlu ditambahkan (selain fiqh praktis shalat, puasa, haji, zakat dll) adalah :
1. Kaidah ushul fiqh dan metode istinbath hukum (agar mahasiswa memahami dari mana datangnya keputusan halal-haram yang difatwakan ulama),
2. Metode autentifikasi hadits (agar mahasiswa memahami metode ilmiah yang mumpuni dibalik status hadits shahih, hasan, dhoif, dll, kaitannya dengan membentuk pola berfikir ilmiah mereka pada jurusan yang mereka tekuni)
3. Aliran-aliran pemikiran Islam (agar mahasiswa dikenalkan dengan aliran pemikiran Islam yang ada, serta mampu melihat semua kebaikan dari kelompok-kelompok aliran pemikiran yang ada. Agar mereka mampu bekerjasama dengan kelompok apapun bahkan dengan umat agama apapun. Bukan untuk menjadikan mahasiswa condong/fanatik pada kelompok tertentu dan mencibir kelompok yang lain)
Materi-materi diatas sangat sesuai dengan kapasitas intelektual mahasiswa. Disamping itu, komponen penilaian yang perlu ditambahkan adalah hafalan quran, misalnya 5 halaman untuk syarat lulus.
Yang menjaga diri kita dari perbuatan dosa hanya dua, yaitu akal (pengetahuan akan hukum2) dan hawa nafsu. Seorang yang tidak tahu hukum sebuah perbuatan dosa akan melakukan perbuatan dosa karena tidak dijaga oleh akalnya. Tetapi seorang yang tahu hukum suatu perbuatan dosa akan tetap melakukan perbuatan dosa karena tarikan hawa nafsunya lebih besar.
Perubahan karakter hanyalah masalah waktu, apabila isi kepala telah penuh dengan pengetahuan dan pemahaman agamanya. Waktu untuk merubah karakter akan tergantung dari masing-masing individu dan jangan menjadi urusan pendidik.
Cuma pendapat saya, silahkan lempar ke tembok kalau tidak sepakat *smile*
Sunday, November 14, 2010
Friday, January 1, 2010
Friday, November 6, 2009
Saturday, October 17, 2009
Subscribe to:
Posts (Atom)
